Equityworld Futures | Menjelang aksi bela isla jilid III yang akan dilaksanakan mulai pagi hari ini di Monas, situasi di sekitaran Bundaran HI terlihat cukup ramai.
Massa jamaah aksi tersebut sudah berkumpul didepan Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat. Menurut pantauan Arah.com, massa sudah mulai bergerak menuju Monas.
Massa Aksi 212 Mulai Datangi Kawasan Monas
Mereka sambil berjalan dengan menyerukan seruan agar penista agama Basuki Thaja Purnama untuk segera ditahan.
"Kami ingin Ahok segera ditahan. Penista agama itu harjs segera ditahan,"ujar salah seorang peserta aksi damai di Thamri, Jakarta Pusat Jumaat (2/12/2016)
Sampai saat ini peserta aksi terus bertambah. Mereka datang dari arah Sudirman, dan dari arah Tanah Abang.(Wildan)
Equityworld Futures | 212 Wiro Sableng
Jokowi akhir-akhir ini sering undang orang ke Istana. Gak diundang ke Istana, nih, sama Jokowi?
Ya enggaklah. Jangan kaitkan aku sama demo 212, dong. Hahaha.
Memang
ramai sekarang yang mengaitkan demo 212 sama aku. Tapi, ya, mungkin
kebetulan saja tanggal 2 bulan 12. Gak ada hubungannya sama Wiro
Sableng. Mana mungkin aku diundang ke Istana.
Soal aksi 212 besok, tanggapan Anda?
Masalah
Ahok, ya, sudah tersangka. Proses secara hukum, kalau dia bersalah, ya,
hukum. Umat Islam merasa dihina-hina, saya juga tersinggung. Kita
sekarang lihat prosesnya saja, Ahok sampai di mana. Kita, kan, negara
hukum, tangkap Ahok misalkan dia salah, kalau dia benar yang dilepaskan.
Sebagai umat Islam kita mesti tahan, legowo, dan sabar. Nabi juga dulu
dikejar-kejar kok, dan dianiaya.
Di dunia politik nasional yang
lagi panas sekarang, kira-kira ada gak politikus yang sifatnya kayak
Wiro Sableng atau Sinto Gendeng?
Kalau dikaitakan sama politisi,
siapa ya? Gak ada, ah. Waras semua. Alhamdulillah, Indonesia pada asyik.
Kalau perbedaan pendapat itu, kan, wajar-wajar saja.
PT. Equityworld Futures Sebagai Salah Satu Perusahaan Pialang Terbesar Dan Teraktif Dalam Industri Perdagangan Berjangka
Siapa politikus favorit Anda? Gak tertarik masuk politik?
Aku
gak pernah di politik. Kalau mengamati ya lewat TV saja. Aku gak lari
ke politik. Studi saya gak ke sana. Saya orangnya netral.
Kesukaanku
sebenarnya Anas Urbaningrum, tapi itu dulu sebelum dia kena KPK. Kalau
sekarang, sih, cenderung Jokowi. Dia merakyat, kalem, dan terlihat asyik
juga, sih. Tapi secara pemerintahan, aku suka Prabowo karena dia
meledak-ledak. Kalau ngomong, "Wa! Wa!" (menirukan Prabowo berpidato),
itu idamanku, tuh. Aku suka gayanya. Tapi Jokowi dan Prabowo sama
hebatnya kok.
Apa sih perbedaan Wiro Sableng sama orang gila sungguhan?
Sebetulnya
beda-beda tipis. Karena hal yang gak mungkin dilakukan orang normal
malah dilakukan Si Wiro. Kentut, merayap-rayap, dan banyak kegilaan
lain. Peran ini memang luar biasa. Untuk total jadi Wiro Sableng, saya
gak pernah aneh-aneh, perilaku sehari-hari biasa saja, gak pernah
cekikikan juga. Saat berakting, imajinasi saya yang ambil kendali.
Mungkinkah orang sableng jadi pahlawan di dunia nyata?
Mungkin.
Karena begini, satu hal utama di Wiro Sableng adalah sifat
kejujurannya. Apa yang di dalam hatinya selalu diucapkan di mulutnya.
Dia gak pernah bohong. Kejujuran itulah kunci. Selemah apa pun orang,
selama dia jujur, dia akan selalu bermanfaat, dan jadi pahlawan. Ada kok
di era sekarang pun, aku yakin. Banyak yang slengekan dan gendeng, tapi
karena jujur dia bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Wiro Sableng punya puluhan jurus. Pusing, gak, menghafalkan gerakan-gerakannya?
Enggak
kok. Tiap jurus memang selalu beda. Tapi saya akui memang gak mudah
menghafalkan jurus. Semua jurus itu dibuat oleh Edi Sodikin. Dia bagus,
menurut saya.
Gerakan silatnya kenapa kok cenderung lamban?
Zaman
itu memang banyak mengadopsi teknik kungfu, tapi gerakannya memang
sengaja diperlambat. Tren model grip fighting di era 95-an memang
begitu. Sebetulnya soal speed bisa ditambah kok. Sengaja diperlambat
supaya mudah diikuti dan ditiru anak-anak. Soalnya waktu itu target
audiens Wiro Sableng memang anak kecil, bukan orang dewasa. Adegan
perkelahian Wiro pun masih bisa ditolerir, gak ada kekerasan di sana.
Termasuk adegan cinta. Kalau kita baca bukunya langsung, masih banyak
adegan-adegan percintaan. Kalau di film, memang sengaja di-pres agar
jangan ada.
Ini jadi alasan Wiro Sableng di serial TV selalu
kelihatan Jomblo? Padahal Wiro Sableng punya banyak penggemar macam Puti
Angsa Putih, Luhjelita, Luhcinta, Wulan Srindi, Nyi Roro Manggut, Ning
Intan, Purnama, Anggini, Puti Andini, dll?
Ya skripnya gitu, mau bagaimana lagi?
Benar,
Wiro dikelilingi perempuan-perempuan cantik, tapi dia terlalu cuek. Gak
aneh sih, Wiro ini didikan Sinto Gendeng. Dia tidur di hutan. Dia juga
pemuda sableng. Dia turun gunung saat ada kekacauan saja, bukan untuk
cari jodoh.
Sebagai pemeran Wiro Sableng, lebih pilih Bidadari Angin Timur atau Dewi Bunga Mayat?
Hmmm,
bingung saya. Memang edan itu. Hal yang paling aku takutkan ya adegan
cinta seperti itu. Hmmm... Bidadari Angin Timur, konflik cintanya luar
biasa, dan lebih dominan. Tapi Dewi Bunga Mayat juga gak bisa dianggap
enteng, itu konflik romantisnya edan juga. Konflik itu memang sengaja
dibuat Bastian Tito, luar biasa banget, saya salut ke beliau.
Kalau lihat di TV, kan, kayak sakti banget. Bisa jalan di air, bisa terbang. Ada yang percaya Anda bisa begitu?
Kalau
kanuragan, mereka percaya. Karena mereka lihat kanuragan saya saat
bertarung dan memperagakan silat di TV. Saya memang memperdalam ilmu
itu. Tapi kalau yang terbang, jalan di air ya enggak mungkinlah. Itu,
kan, cuma film.
Sebagai fan Wiro Sableng, saya kadang kesal.
Kenapa Wiro Sableng itu cenderung bertahan dan counter attack. Pengen
kayak Jackie Chan atau Steven Seagal? Atau memang tipikal jagoan harus
begitu?
Betul banget. Wiro Sableng itu bukan tipikal penyerang.
Dia penunggu. Dia lebih banyak lihat serangan lawan, baru dia ambil
kesimpulan, anggap ini pertarungan serius atau tidak. Ini khasnya Wiro.
Kalau ilmu lawannya di bawah dia, selalu timbul lelucon ke musuhnya. Meledek, gitulah.
Kenapa sih harus pakai kapak? Kalau Anda Bastian Tito, enaknya Wiro Sableng itu pakai senjata apa?
Itu
yang repot. Karena permainan kapak tidak bisa berkembang. Toya bisa
berkembang. Pedang apalagi. Patmayoni juga. Kapak yang susah. Sangat
susah soalnya benda kecil. Kalau patmayoni, bisa diputer ke mana-mana.
Toya bisa main kayak Jet Lee. Kapak gak bisa berkembang kayak
begini-begini (memperagakan gaya pedang).
Kalau saya jadi Bastian
Tito, kapak itu pilihan tepat. Karena yang pakai kapak cuma Wiro
Sableng. Kalau Wiro Sableng dikasih pedang, wah, bisa hancur semuanya,
karena dia sableng. Wiro Sableng juga gak bisa main pedang. Mana pernah
dia menggunakan pedang setelah merebut pedang lawan? Dia percaya diri,
mendingan pakai tangan kosong.
Kok senjata di Wiro Sableng itu
kelihatan banget palsunya? Kadang gabusnya kelihatan vulgar. Kalau
nonton Wiro Sableng sekarang, jadi ilfeel.
Di era itu sudah bagus. Waktunya juga sempit, dan adanya begitu. Ya, namanya juga 1995.
Merasa ganteng saat perankan Wiro Sableng?
Enggak. Pas-pasan sajalah.
Saat perankan Wiro sering pakai bedak, ya? Tebal banget.
Iya,
betul sekali. Wajarlah, saya banyak tahi lalat hitam-hitam, pengin
kelihatan rapi. Lagi pula kulit mukaku gak bagus. Kadang di luar syuting
orang liat aku, "ya ampun, kok begini". Tapi kadang ada pula yang
bilang aku manis. Ya, dulu, bukan sekarang.
Hal yang selalu
diingat penggemar serial TV Wiro Sableng itu bloopers-nya, di akhir
selalu ditampilkan adegan-adegan gagal. Nah, di situ kan ada adegan
dokar nyungsep, dan Anda masih bisa loncat. Masih ingat kejadian itu?
Itu
dokar beneran nyungsep, lhoh. Itu kejadian yang paling membuat saya
kecewa saat main di Wiro Sableng. Waktu itu, saya gak bisa menyelamatkan
pemeran Putri Laramurni, namanya Yanti. Gara-gara kecelakaan itu dia
gegar otak. Cukup parah juga.
Saya gak sempat tarik dia, karena
waktunya yang mepet, posisi dokar juga udah miring, makanya saya keburu
loncat. Lumayan itu dokar jatuh ke jurang yang tingginya dua meteran,
bawahnya bebatuan. Lokasi syuting kejadian ini di daerah Wonogiri.
Dulu sekolah di STM, suka berantem?
Gak suka. Gak hobi. Aku banyak kesibukan di luar, hobi mancing, berenang, dan jalan-jalan. Gak banyak nongkrong sama berantem.
Masih senang pakai kemeja panjang?
Waktu
masih jadi artis. Sekarang udah jadi petani mah enggak, biasa saja.
Alasan saya pakai kemeja panjang karena memang suka rapi. Ditambah,
kemeja panjang bisa menutupi tangan saya yang gak ada urat. Saya kadang
gak pede. Meski olahraga keras, tetap saja gak ada urat dan ototnya.
Kalau merujuk aktor-aktor yang pernah perankan Wiro Sableng, Anda gak takut seperti Toni Hidayat yang mengidap gila benaran?
Enggaklah.
Aku normal, jangan terlalu dihayati deh. Kalau di luar akting, ya
sudah. Kalau dihayati ya memang bisa [gila]. Sangat bisa dominan.
Tulisan 212 di dada itu pakai spidol, ya?
Cuma
spidol. Tapi, ya, meski gak ada tanda 212, walaupun usia sudah 48
tahun, saya masih bisa jadi pendekar kok. Ibaratnya saya saat in lagi
naik gunung. Saya sebenarnya pengin juga turun gunung, mau bikin
tutorial jurus-jurus gitu di Youtube, tapi nanti saja deh.
(tirto.id : wam/zen)
Keyword
wawancara wiro sableng mild report aksi 212
Pelbagai pemberitaan aksi demonstrasi 212 membuat Wiro Sableng dengan sendirinya mencuat. Karakter pendekar rekaan Bastian Tito itu memang terkenal dengan angka 212. Julukannya: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.
Bastian Tito sudah wafat. Pemeran Wiro Sableng versi sinetron, Ken Ken, masi ada. Tapi Ken Ken tidak lagi beredar di layar kaca. Seakan menapaktilasi cerita Wiro Sableng yang memang digembleng di Gunung Gede, ia kini menetap di kaki Gunung Gede, di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur.
Untuk mencapai rumahnya, kami harus melewati jalanan berbatu dan menanjak. Akibat hujan di pagi hari, tanah merah menjadi licin dan becek dan mobil yang kami tumpangi kepayahan. Mobil pun kami parkir di bawah.
Setelah berjalan 100 meter lebih, terlihat sebuah rumah panggung yang di sana sini terlihat lapuk kayunya. Dari dalam rumah, seorang pria tinggi besar memanggil. Meski pintu depan terbuka, ia meminta kami memutar lewat pintu belakang. Teras depan rumah itu memang terlihat keropos.
“Selamat datang di padepokan saya,” kata si empunya rumah.
Rumah Ken Ken bukanlah padepokan silat atau padepokan supranatural. Sejak delapan bulan lalu, ia mengambil alih bangunan lapuk ini beserta lahan tidur seluas hampir 6 hektar di sekitarnya. Ken Ken kembali ke Gunung Gede bukan sebagai pendekar, namun sebagai petani yang bercocok-tanam aneka sayuran.
Berikut wawancara Tirto.id dengan Ken Ken alias Herning Sukendro.
Kenapa setelah pensiun larinya ke pertanian? Gak kerja atau bisnis di bidang lain?
Dulunya mau lari ke perikanan dan tinggal di sisi laut. Tapi setelah kupikir-pikir, karena dari dulu aku tinggal dan beli rumah di pegunungan, aku jadi terbiasa di alam, gitu. Waktu syuting Wiro Sableng pun banyak di hutan. Gak tertarik untuk aktivitas di kota, lebih enak di desa. Karena di desa, aku coba menggeluti pertanian. Gak muluk-muluk, coba nanam jagung dulu, setelah itu merambah ke yang lain.